Lapangan.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah menyampaikan pujian terbuka kepada tentara Inggris yang bertugas di Afghanistan. Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah komentarnya memicu kemarahan publik Inggris dan kritik keras dari berbagai pihak, termasuk keluarga prajurit yang gugur dalam konflik panjang tersebut.
Perubahan sikap Trump dinilai sebagai upaya meredam ketegangan diplomatik antara Washington dan London, terutama setelah pernyataannya dianggap meremehkan peran pasukan NATO di Afghanistan.
Kritik Keras Menggema, Trump Lakukan Klarifikasi
Sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox Business Network di sela World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Trump menyebut pasukan NATO berada “di luar garis depan” saat perang Afghanistan. Ucapan itu langsung menuai reaksi keras, khususnya di Inggris, yang kehilangan ratusan tentaranya dalam operasi militer bersama Amerika Serikat.
Gelombang kecaman semakin besar ketika keluarga korban menyebut komentar Trump sebagai bentuk penghinaan terhadap pengorbanan tentara Inggris. Tekanan politik pun meningkat hingga Perdana Menteri Inggris Keir Starmer akhirnya melakukan komunikasi langsung dengan Trump.
Pujian Terbuka Lewat Media Sosial
Tak lama setelah percakapan tersebut, Trump menyampaikan pernyataan berbeda melalui platform Truth Social. Ia memuji keberanian pasukan Inggris dan menyebut mereka sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan melawan terorisme.
“Para tentara Britania Raya adalah pejuang hebat dan pemberani yang selalu berdiri bersama Amerika Serikat,” tulis Trump.
Ia juga menyebut 457 tentara Inggris yang gugur di Afghanistan sebagai “pejuang terbesar sepanjang masa”, serta menegaskan bahwa ikatan militer antara AS dan Inggris terlalu kuat untuk dipatahkan oleh perbedaan pandangan.
Perang Afghanistan dan Fakta Pengorbanan Sekutu
Invasi Afghanistan dimulai pada Oktober 2001, tak lama setelah serangan teror 11 September di New York dan Washington. Amerika Serikat memimpin koalisi internasional untuk menghancurkan jaringan al-Qaeda dan menumbangkan Taliban.
Inggris Jadi Kontingen Terbesar Kedua
Inggris tercatat mengirim lebih dari 150.000 personel selama misi berlangsung, menjadikannya negara dengan kontribusi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Ratusan tentara Inggris gugur dan ribuan lainnya mengalami luka fisik maupun trauma psikologis.
Fakta ini menjadi dasar kemarahan publik Inggris terhadap komentar awal Trump, yang dinilai tidak mencerminkan realitas di lapangan.
Hubungan AS–Inggris Kembali Diuji
Meski Trump tidak secara eksplisit menyampaikan permintaan maaf, pernyataan terbarunya dianggap sebagai langkah perbaikan hubungan. Kantor Perdana Menteri Inggris menegaskan bahwa pengorbanan tentara dari kedua negara tidak boleh dilupakan dan harus dihormati.
Selain Inggris, Prancis dan Italia juga sebelumnya menyatakan ketidaksetujuan atas komentar Trump, menunjukkan bahwa isu ini telah meluas menjadi persoalan solidaritas NATO dan stabilitas diplomasi global.
Perubahan nada Trump menegaskan satu hal: isu militer dan pengorbanan prajurit tetap menjadi topik sensitif, terutama bagi negara-negara yang telah membayar mahal dalam konflik Afghanistan.










