Lapangan.co.id – Jumlah korban meninggal dunia akibat serangan kelompok bersenjata yang dikaitkan dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, kembali bertambah. Hingga Kamis (21/5/2026), tercatat sebanyak 10 pendulang emas dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.
Keterangan itu disampaikan pihak TNI yang menyebut seluruh korban meninggal dunia setelah mengalami serangan brutal di area tambang emas wilayah Korowai.
TNI Kerahkan Ratusan Personel ke Lokasi Kejadian
Fokus Awal pada Evakuasi Korban
Aparat gabungan dari TNI dan unsur keamanan lainnya kini disiagakan di Yahukimo untuk melakukan proses evakuasi terhadap para korban. Ratusan personel diterjunkan guna menjangkau lokasi kejadian yang berada di kawasan pedalaman.
Tentara Nasional Indonesia menyatakan bahwa operasi penyelamatan menjadi prioritas utama sebelum langkah pengejaran terhadap kelompok pelaku dilakukan.
Setelah proses evakuasi selesai, aparat gabungan akan melanjutkan patroli keamanan dan operasi pengejaran terhadap pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan tersebut.
Kronologi Penyerangan di Lokasi Tambang Emas Korowai
Korban Disebut Diserang Menggunakan Senjata Tajam
Peristiwa berdarah itu terjadi pada Rabu (20/5/2026) di area pertambangan emas Korowai, Kabupaten Yahukimo. Para pendulang emas dilaporkan menjadi sasaran penyerangan menggunakan senjata tajam hingga menyebabkan korban jiwa.
Menurut keterangan aparat, kelompok bersenjata yang diduga terlibat dipimpin oleh Dejang Heluka bersama Kopitua Heluka.
Kelompok tersebut disebut menuduh para pendulang emas sebagai aparat keamanan yang menyamar di wilayah tersebut.
TNI Bantah Tuduhan Korban Merupakan Intelijen
Korban Dipastikan Warga Sipil
Pihak TNI membantah tudingan yang menyebut korban merupakan anggota intelijen atau aparat keamanan yang menyamar. Aparat memastikan para korban adalah warga sipil yang bekerja sebagai pendulang emas di lokasi tambang.
Keterangan resmi dari Koops TNI Habema menyebutkan bahwa para korban tidak memiliki keterkaitan dengan operasi militer maupun aktivitas intelijen.
Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan bersenjata di wilayah Papua Pegunungan dan kembali memicu perhatian terhadap situasi keamanan di kawasan pertambangan pedalaman Papua.










