BeritaNasional

Pria Australia Meninggal di Bali, Keluarga Nilai Terhambat Paspor Darurat

159
Sumber foto : detik.com
Sumber foto : detik.com

Lapangan.co.id – Seorang warga negara Australia bernama Wayne Harvey meninggal dunia saat menjalani perawatan medis di Bali. Keluarga menyebut keterlambatan penerbitan paspor darurat oleh otoritas konsuler Australia menjadi faktor krusial yang membuat Wayne tidak dapat dipindahkan ke rumah sakit dengan fasilitas lebih memadai.

Kisah ini terungkap ke publik setelah dilaporkan oleh media internasional The Guardian.

Awal Mula Wayne Harvey Dirawat di Bali

Sakit Usus Buntu di Malam Natal

Peristiwa tragis ini bermula pada Malam Natal 2022. Wayne yang saat itu berusia 69 tahun didiagnosis mengalami appendisitis atau radang usus buntu. Ia kemudian dirawat di RS Puri Raharja, Denpasar, dan menjalani operasi pengangkatan usus buntu.

Pascaoperasi, kondisi Wayne dilaporkan memburuk akibat komplikasi. Pihak rumah sakit menyarankan agar ia dirujuk ke RS Prof. Ngoerah untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Kendala Paspor Hambat Pemindahan Rumah Sakit

Paspor Hilang, Transfer Medis Gagal

Rencana pemindahan Wayne terkendala karena paspornya dinyatakan hilang. Pihak rumah sakit tidak dapat melakukan rujukan tanpa dokumen perjalanan tersebut.

Jake Harvey, anak tunggal Wayne, lalu menghubungi layanan darurat konsuler Departemen Luar Negeri Australia pada 1 Januari 2023. Ia menjelaskan bahwa ayahnya dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri, serta meminta diterbitkan paspor darurat.

Namun, permintaan itu tidak langsung diproses. Pihak konsulat menyatakan tidak dapat menerbitkan paspor darurat tanpa persetujuan langsung dari Wayne, dengan alasan ketentuan Undang-Undang Privasi Australia.

Upaya Keluarga yang Tak Berbuah Hasil

Berkali-kali Menghubungi Konsulat

Selama lebih dari dua hari, Jake berulang kali mengirim email dan menelepon pihak konsulat. Ia bahkan menyertakan foto dan video yang memperlihatkan ayahnya terpasang alat bantu hidup.

Jake mengaku frustrasi karena merasa permohonannya tidak ditangani secara serius. Ia juga menyarankan agar petugas konsulat menghubungi rumah sakit secara langsung untuk memastikan kondisi Wayne dan mendapatkan persetujuan medis.

Pada 3 Januari 2023, pihak konsulat mengirim email berisi ringkasan kondisi Wayne berdasarkan laporan perawat. Mereka menyebut kondisi Wayne relatif stabil dan menyatakan rumah sakit rujukan yang diusulkan tidak sesuai standar Australia.

Informasi tersebut dianggap Jake bertolak belakang dengan keterangan dokter dan rekan ayahnya di Bali. Ia kembali menegaskan bahwa paspor darurat sangat dibutuhkan apabila kondisi Wayne kembali memburuk. Namun, email lanjutan itu tidak mendapat respons.

Paspor Tak Terbit, Wayne Tutup Usia

Meninggal Dunia di RS Puri Raharja

Hingga akhir hayatnya, paspor darurat untuk Wayne tidak pernah diterbitkan. Ia pun tidak dapat dipindahkan ke rumah sakit lain. Wayne Harvey meninggal dunia di RS Puri Raharja pada 7 Januari 2023.

Dua hari setelah kematian ayahnya, Jake mengajukan komplain resmi kepada Departemen Luar Negeri Australia. Namun, keluhan tersebut tidak mendapat tanggapan selama lebih dari dua tahun.

Respons Deplu Australia Datang Terlambat

Pengakuan dan Permintaan Maaf

Baru setelah 27 bulan, tepatnya pertengahan 2025, pihak Departemen Luar Negeri Australia merespons email Jake. Dalam balasan tersebut, pejabat konsuler Paula Brewer mengakui adanya kekurangan dalam penanganan kasus Wayne.

Ia menyatakan pihak konsulat saat itu tidak sepenuhnya memahami tingkat keparahan kondisi kesehatan Wayne, serta mengakui bahwa proses dan keterbatasan waktu akibat hari libur nasional tidak dijelaskan secara transparan kepada keluarga.

Jake menilai penjelasan tersebut tidak memadai. Menurutnya, kondisi ayahnya yang tidak sadarkan diri dan bergantung pada alat bantu hidup seharusnya sudah cukup menjadi dasar untuk tindakan darurat.

Kasus Masih Menyisakan Pertanyaan

Hingga kini, Departemen Luar Negeri Australia menyatakan tidak dapat membuka detail lebih lanjut terkait kasus Wayne Harvey dengan alasan kebijakan privasi. Sementara itu, keluarga masih mempertanyakan prosedur dan respons konsuler yang dinilai lambat dalam situasi darurat yang berujung pada kehilangan nyawa.

Exit mobile version