Lapangan.co.id – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menilai peringatan Hari Buku Nasional harus dijadikan titik refleksi untuk memperkuat ekosistem literasi di Indonesia. Menurutnya, budaya membaca dan kemampuan literasi memiliki peran penting dalam menentukan kualitas peradaban suatu bangsa.
Ia menegaskan bahwa masyarakat dengan tingkat literasi tinggi umumnya memiliki daya pikir yang lebih maju dan mampu menghadapi berbagai tantangan global secara lebih baik.
Minat Baca Masyarakat Indonesia Dinilai Masih Rendah
Indeks Kegemaran Membaca Mengalami Penurunan
Hari Buku Nasional sendiri pertama kali diperingati pada 17 Mei 2002 atas gagasan Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Abdul Malik Fadjar. Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980.
Namun di tengah peringatan tersebut, kondisi literasi masyarakat Indonesia masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan data survei Perpustakaan Nasional yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS), indeks kegemaran membaca masyarakat mengalami penurunan dari 72,44 pada 2024 menjadi 54,80 pada 2025.
Sementara itu, survei GoodStats tahun 2025 menunjukkan hanya sekitar 20,7 persen responden yang mengaku membaca buku setiap hari.
Waktu Membaca Orang Indonesia Masih Tertinggal
Laporan World Population Review 2025 juga mencatat rata-rata masyarakat Indonesia membaca buku sekitar 129 jam per tahun. Angka tersebut masih jauh dibandingkan India dengan 352 jam per tahun maupun Amerika Serikat yang mencapai 357 jam per tahun.
Menurut Lestari, kondisi tersebut menjadi tantangan serius karena literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami informasi dan berpikir kritis.
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Jadi Sorotan
Hasil Tes Akademik Dinilai Mengkhawatirkan
Lestari mengungkapkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan kemampuan inferensial siswa masih rendah. Kemampuan untuk menarik kesimpulan, membuat prediksi, dan memahami makna teks hanya berada di kisaran 43,21 persen.
Selain itu, kemampuan siswa dalam mengevaluasi serta mengapresiasi teks tercatat sekitar 45,32 persen.
Ia menilai kondisi tersebut dapat menjadi ancaman terhadap daya saing bangsa apabila tidak segera diperbaiki melalui langkah nyata dan berkelanjutan.
Generasi Z Dinilai Punya Potensi Besar Tingkatkan Budaya Literasi
Minat Membaca Gen Z Lebih Tinggi Dibanding Generasi Lain
Di tengah tantangan literasi nasional, Lestari melihat adanya peluang positif dari generasi muda. Berdasarkan survei GoodStats semester II tahun 2025, tingkat aktivitas membaca generasi Z mencapai 26 persen.
Angka itu lebih tinggi dibanding generasi milenial yang berada di angka 20 persen dan generasi X sebesar 18 persen.
Menurutnya, peningkatan minat baca di kalangan generasi muda harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk membangun budaya literasi yang lebih kuat di masa depan.
Dorong Langkah Nyata Bangun Ekosistem Literasi Nasional
Perpustakaan Digital hingga Harga Buku Terjangkau
Lestari mendorong berbagai langkah konkret untuk memperkuat budaya membaca di Indonesia. Salah satunya dengan memperluas komunitas baca berbasis digital maupun tatap muka agar aktivitas literasi semakin hidup di masyarakat.
Ia juga menilai sekolah dan perguruan tinggi perlu mengubah pola pembelajaran agar lebih menekankan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar membaca materi pelajaran.
Selain itu, akses masyarakat terhadap bahan bacaan harus diperluas melalui penyediaan perpustakaan dengan koleksi lengkap, baik dalam bentuk fisik maupun digital.
Menurutnya, keterjangkauan harga buku juga penting diperhatikan, termasuk melalui penghapusan pajak buku dan keringanan harga kertas agar masyarakat lebih mudah mendapatkan bahan bacaan berkualitas.
Literasi Dinilai Penting untuk Menjaga Daya Saing Bangsa
Lestari berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat dapat bersama-sama menjadikan literasi sebagai gerakan nasional yang terukur dan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa kemampuan literasi sangat penting agar generasi muda mampu menyaring derasnya arus informasi yang berkembang di era digital dan menjaga ketahanan bangsa di masa mendatang.
